Dear brand lokal, Kita gak butuh foundie yang terang-terang

Wanita Indonesia sering kali diperlakukan seperti kandidat yang bakal melawan Snow White; yang lebih putih menang. Standar kecantikan ini membuat perempuan Indonesia mati-matian mencari cara supaya bisa punya kulit yang lebih terang dari kulit asli mereka. Yang parahnya, keadaan pasar dan industri kecantikan di Indonesia justru kelihatan seperti melanggengkan ideologi kolot ini.

Banyaknya produk pemutih kulit di pasaran dan ketersediaan servis perawatan untuk membuat kulit “putih” seakan-akan mendukung perempuan Indonesia untuk tetap berpegang teguh pada ideologi yang gak berakal ini. Kata seorang pengguna Quora, Rebecca Oriza, dia bahkan tidak bisa menemukan produk tanpa klaim 'memutihkan atau mencerahkan' saat berjalan ke bagian produk perawatan kulit. Dan ini benar adanya. Buktikan saja, kalau kamu langsung masuk ke minimarket dimana saja secara asal; pasti hampir semua produk perawatan kulitnya memaparkan kata memutihkan atau mencerahkan dikemasannya.

Selain itu, perempuan Indonesia juga sering kali bersikeras memilih foundation yang jelas-jelas terlalu terang. Seorang redittor dengan username u/eraser_dust yang pernah datang ke Indonesia juga bilang kalau melihat orang memakai bedak yang lebih terang dari warna kulit asli itu sudah biasa di Indonesia, seperti tren. Bahkan seorang manager dari brand lokal yang gak disebut namanya oleh si redittor ini juga berbagi info jika produk foundation mereka yang terlaris adalah warna paling terang, dan warna yang paling gelap itu biasanya tidak laris.

Nah, dulu mamaku selalu beli foundation yang warnanya paling terang. Dan aku juga selalu dipakein foundation itu kalau ada pesta, bikin aku kelihatan kayak lagi pakai topeng karena area wajahku lebih terang dari leherku. Selain itu, aku juga pernah nemenin seorang kawanku yang kebetulan keturunan India untuk beli foundation, dimana kami gak menemukan satupun warna yang cocok karena pilihan shade yang tersedia saat itu terlalu terang.

Representatif departemen Riset dan Perkembangan dari Zoya Cometics Indonesia, Dina, juga setuju bahwa orang Indonesia masih termakan dengan ide “putih itu cantik”. Hal ini adalah akar permasalahnya. Permintaan konsumen cenderungnya jatuh di warna foundation yang terang, bikin perusahaan cuma fokus untuk memproduksi warna-warna terang saja karena demikianlah permintaan pasar.

Ideologi kolot ini terbilang bertahan cukup lama. Orang-orang tetap menganggap punya keinginan untuk jadi putih dan tampil putih itu normal dan sangat wajar. Namun dunia kecantikan seakan diguncang gempa bumi dengan peluncuran Fenty Beauty. Selain karena Rihanna yang bikin Fenty Beauty ini nge-hit, foundation mereka yang terdiri dari 40 warna juga bikin mereka selalu menjadi brand kosmetik yang menonjol.

Peluncuran Fenty Beauty ini membuat dunia kecantikan seolah dihempas gelombang tren baru. Indonesia juga sama halnya, membuat banyak perempuan yang mulai sadar dan teredukasi kalau foundation itu sejatinya dipilih yang cocok dengan warna kulit masing-masing, bukan malah memilih yang lebih terang. Sayangnya, Fenty Beauty belum hadir di Indonesia.

Sementara itu, sampai saat ini pun brand lokal masih belum menunjukkan kemajuan yang jelas. Kebanyakan brand lokal yang bermunculan belum terlihat fokus pada produk wajah, namun lebih ke produk bibir atau mata.

Foundation Chart ID-01.png

Baru-baru ini iPrice juga mengumpulkan data mengenai warna-warna foundation di Indonesia. Data yang tertera pun tidak menunjukkan perkembangan pada brand lokal di Indonesia. Informasi yang dikumpulkan fokus pada brand yang mudah ditemukan di farmasi Indonesia, dan kelima produk tersebut adalah yang terlaris. Selain itu, tim iPrice juga menitikberatkan pada foundation cair, karena BB cream and CC cream memiliki varian warna yang sangat sedikit.

Brand internasional yang menjual produk mereka di Indonesia pun keseringan hanya menjual beberapa warna saja, dan cenderung warna terang melulu. Contohnya Maybelline yang memiliki 40 warna di Amerika dan Revlon yang memiliki 43 warna di negara barat. Mirisnya, dua brand ini Cuma menjual beberapa warna saja di Indonesia; Maybelline 16 warna, Revlon 5 warna.

Yang lebih miris lagi, Wardah hanya memiliki 4 warna foundation. Padahal, Wardah adalah brand yang mendominasi 50% pasar kosmetik lokal di tanah air.

Make Over, untungnya membayar kesalahan Wardah, dengan menawarkan 9 warna foundation yang cukup “lengkap” dengan warna-warna gelapnya.

Disisi lain, L’oreal Infallible Pro Matte juga menawarkan 7 warna yang cukup bisa mengkapi kebutuhan cewek-cewek berkulit gelap.

Tanggapan publik soal ini?

Cewek-cewek Indonesia tentunya senang karena industri kecantikan lokal sudah banyak berkembang. Produk brand lokal ini sebenarnya gak buruk dari segi kualitas, malah beberapa produk terbilang bagus banget. Lihat saja beauty vlogger Indonesia yang akun YouTubenya livjunkie, dia aja sampe memuja-muja kualitas foundation lokal, tapi juga bilang kalau dia kecewa dengan warnanya.

Brand lokal lain, seperti Inez, Caring, dan Emina pun cuma punya beberapa warna, kira-kira 3 sampe 5 warna. Kelihatan sekali bahwa perusahaan kosmetik lokal belum mengindahkan permintaan publik untuk memproduksi lebih banyak warna.

Shella Sanjaya, atau dikenal “Ochell”, editor di Femaile Daily, pernah membuat survey kecil-kecilan di akun Instagramnya. Dari survey itu dia menemukan 85% perempuan belum puas sama foundation di Indonesia dikarenakan rentang warnanya yang masih kurang untuk kulit Indonesia.

Hanya karna konsep “putih itu cantik”, warna-warna foundation yang disediakan oleh brand lokal pun hanya yang terang-terang aja karna permintaan pasar masih didominasi sama warna yang terang. Seharusnya brand lokal lebih peka dan mampu menyadari bahwa masih banyak juga cewek Indonesia, termasuk beauty vlogger yang mengkritisi brand lokal untuk mengeluarkan warna-warna yang lebih gelap.

Akhir kata, publik berharap brand-brand lokal bisa mengejar ketertinggalan mereka dan mengikuti perkembangan brand-brand internasional. Terutama dengan mengambil langkah-langkah yang lebih konkret untuk mengedukasi perempuan Indonesia, agar konsep “putih itu cantik” bisa terganti dengan sesuatu yang tentu saja lebih rasional.

Ya, tentu saja kita bisa berharap brand Internasional untuk mengimpor warna foundation mereka yang lebih gelap. Namun apakah brand lokal gak malu kalau gak bisa memenuhi permintaan rakyat sendiri?

Written by: KEZIA VESSALIUS .
A fresh graduate who is currently exploring the world of digital marketing in iPrice Group. She always loves to talk about something that she thinks as social issues as well as, of course, coffee. For her, life is an unpredictable miracle from God that she believes will bring her to good places as long as she let them to. Probably to Rome or Iceland. It is just the matter of time. If you wanna know more about her, simply send her a direct-messages on her Instagram. https://www.instagram.com/kezia.zhang